EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SISTEM INTERCROPPING YANG DAPAT DITERAPKAN PADA KABBAS DAN BAWANG

 

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SISTEM INTERCROPPING YANG DAPAT 

DITERAPKAN PADA KABBAS DAN BAWANG

 
      Di zaman modern ini, perkembangan dunia pertanian juga semakin meningkat. Berbagai penelitian telah 
menghasilkan pola tanam yang dapat diterapkan dalam kehidupan, antara lain monokultur dan polikultur. 
Monokultur adalah pertanian dengan menanam tanaman sejenis sedangkan polikultur adalah pola pertanian 
dengan banyak jenis tanaman dalam satu petak lahan yang disusun dan direncanakan dengan menerapkan aspek
 lingkungan yang baik. Sistem tumpang sari adalah menanam dua atau lebih jenis tanaman pada satu petak lahan
 pada waktu yang bersamaan (Andrews dan Kassam, 1979 dalam Suwena, 2002). Jenis tanaman yang tumbuh
 bersama dalam sistem tumpang sari berinteraksi dan saling mempengaruhi.

 

     Hubungan antar spesies tanaman yang tumbuh bersama dalam sistem tumpang sari dapat menguntungkan atau merugikan. Tujuan dari pola tanam tumpangsari itu sendiri adalah untuk memanfaatkan faktor produksi secara optimal dan memperoleh total produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan penanaman monokultur (Tharir dan Hadmadi, 1984). Hasil panen yang beragam juga bisa menguntungkan karena jika harga satu komoditas rendah bisa ditutup oleh komoditas lain. Selain itu, sistem tumpang sari juga berperan dalam meningkatkan kesuburan tanah. Sistem tumpang sari juga mendorong penggunaan yang lebih baik dari area tumbuh, peningkatan ketahanan hama dan penyakit, peningkatan pemberantasan gulma, dan penanaman perangkap untuk pengendalian hama.

 

      Dengan penanganan hama, penyakit dan gulma, sistem tumpang sari seperti ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pestisida alami. Penggunaan pestisida alami merupakan salah satu bentuk upaya mewujudkan pertanian ramah lingkungan. Pestisida alami adalah solusi terbaik untuk pengendalian dibandingkan dengan pestisida buatan / kimiawi. Selain efisiensi, dan kemudahan penggunaan, pestisida buatan / kimiawi menimbulkan pencemaran lingkungan dan pencemaran air yang mempengaruhi sumber daya dalam memberikan pelayanan yang berharga bagi fungsi rumah tangga, navigasi, irigasi, rekreasi dan kehidupan (ekologis), sedangkan pestisida alami tidak beracun dan merusak. . tumbuhan dan relatif aman bagi manusia dan ternak. Menggabungkan tanaman sayur dan herba yang tepat dapat mengurangi kebutuhan pestisida kimia seperti percobaan yang dilakukan di Distrik Makonde, Zimbabwe untuk mengetahui kemampuan bawang merah dan bawang putih dalam mengurangi masalah hama pada kubis dengan sistem tumpang sari.

 

     Kubis (Brassicae oleracea) merupakan sayuran berdaun penting baik di sektor skala kecil maupun di sebagian besar negara Afrika karena nilai gizinya yang tinggi dalam bentuk protein, vitamin, kalsium, dan zat besi. Hama yang menyerang kubis antara lain kutu daun (Aphis brassicae),ngengat punggung berlian (Plutella xylostella), cacing jaring kubis (Hellula undalis), kubis looper, (Trichoplusia). Hal ini mengurangi produktivitas tanaman dan penurunan nilai pasar akibat robek dan hancurnya dan kerugian selanjutnya bagi petani yaitu gagal panen. Dalam hal ini tanaman bawang merah dan bawang putih menghasilkan ekskresi dari akar dan aroma daunnya. Ekskresi dan aroma ini memiliki efek menguntungkan pada tanaman di sekitarnya karena dianggap sebagai tanaman pengusir serangga.

 

     Dalam melakukan penanaman tumpangsari tentunya ada beberapa tahapan yang diperlukan. Lahan yang akan digunakan dibajak terlebih dahulu dengan menggunakan sapi dan garu bergigi tajam untuk memecah gumpalan tanah dan membuat bedengan bibit lebih lunak. Tanaman juga diaplikasikan secara bergantian pada jarak kurang lebih 60 x 50 cm. Tanaman dapat disiram secara rutin yaitu seminggu 2 kali dan kadar air tanah harus dijaga untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Pupuk dasar majemuk D (N8, P14, K7) diaplikasikan dengan takaran 30 g m-2 dimana pupuk dasar disebarkan selama persiapan persemaian, dua minggu sebelum tanam. Pupuk Amonium Nitrat untuk kubis dan Double Super Phosphate untuk bawang putih dan bawang merah diaplikasikan pada tahap pertumbuhan tanaman empat minggu sejak tanggal pemindahan.

 

     Hasil tanam dengan sistem tumpangsari tentunya lebih optimal dibandingkan dengan sistem monokultur. Kubis yang ditanam dengan sistem tumpangsari dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan kubis yang ditanam dengan sistem monokultur. Diameter kubis yang ditanam dengan sistem tumpangsari juga lebih lebar. Hasil kubis yang dipanen juga lebih tinggi. Bobot kubis dari sistem tumpangsari lebih berat dibandingkan dengan kubis yang ditanam dengan sistem multikultur karena pada sistem tanaman multikultur terdapat daun yang robek akibat dimakan hama sehingga tusukan daun harus dibuang agar tetap menjadi produk yang laku.

 

     Sehingga dapat disimpulkan bahwa menanam tanaman dengan sistem tumpangsari lebih efektif dibandingkan dengan sistem monokultur. Selain dapat digunakan sebagai pestisida alami, faktor produksi dapat dimanfaatkan secara optimal dan mendapatkan total produksi yang lebih besar dibandingkan dengan penanaman secara monokultur. Kesejahteraan petani akan terus meningkat jika hasil yang diperoleh maksimal.

 

REFERENSI

       Debra, Katsaruware Rumbidzai, dan Dubiwa Misheck. 2014. Bawang merah (Allium cepa) dan bawang putih (Allium sativum) sebagai tanaman sela pengendali hama dalam sistem tumpangsari berbasis kubis di Zimbabwe. Jurnal IOSR Pertanian dan Ilmu Kedokteran Hewan (IOSR-JAVS), 7 (2), 13-17.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEJU SEBAGAI PRODUK DIBIDANG BIOLOGI

MENGGANTI PESTISIDA KIMIA DENGAN PESTISIDA NABATI